Senin, 14 Agustus 2017
PENYAIR DARI NEGRI ZAMRUD KHATULISTIWA
PUISI
Puisi adalah alat pengungkapan pikiran, perasaan dan sebagai alat ekspresi. Karya sastra merupakan bentuk komunikasi yang tidak terlepas dari empat pendekatan yakni
1. Pendekatan objektif (objective criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan pada karya sastra,
2. Pendekatan ekspresif (expressive criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan pada penulis,
3. 3.Pendekatan mimetik (mimetic criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan terhadap semesta/alam,
4. Pendekatan pragmatik (pragmatic criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan pada pembaca.
Pendekatan ekspresif telah dikembangkan menjadi psikologi sastra dan antropologi sastra. Oleh karena itu, apakah penulisan antology PUISI SINANDONG MENGGUGAT dalam edisi 1 “ SIRAJA BURUNG DI NEGRI ZAMRUD “, masuk dalam ranah dua dimensi itu. Rumusan masalah itu akan terjawab bila pembaca masuk dalam kajian struktural puisi “ SIRAJA BURUNG DI NEGRI ZAMRUD “.
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, puisi ini adalah poetry yang erat dengan -poet dan -poem. Mengenai kata poet yang berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang mampu memasuki alam metafisis menuju alam makrifah. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Definisi puisi yang dikemukakan para penyair romantik Inggris sebagai berikut;
• Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.
• Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
• Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
• Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturut-turut secara teratur).
• Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah, bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
UNSUR – UNSUR PUISI
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik, bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut:
• Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.
• Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.
• Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.
• Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.
• Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.
Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik. Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut:
• Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
• Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
• Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca.
• Amanat/tujuan/maksud (itention), sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
STRUKTUR FISIK PUISI
Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.
• Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
• Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
• Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
• Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang.
• Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/ meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapun macam-macam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
• Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum.
Secara etimologi kata Psikologi berasal dari Bahasa Yunani Kuno Psyche dan Logos. Kata psyche berarti “jiwa, roh, atau sukma”, sedangkan kata logos berarti “ilmu”. Jadi, psikologi secara harfiah berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa
Psikologi Sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tak akan lepas dari kejiwaan masing-masing. Bahkan, sebagaimana Sosiologi Refleksi, Psikologi Sastra pun mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan.
Pada dasarnya, psikologi sastra akan ditopang oleh 3 pendekatan sekaligus. Pertama, pendekatan tekstual, yang mengkaji aspek psikologis tokoh dalam karya sastra. Kedua, pendekatan reseptif-pragmatik, yang mengkaji aspek psikologis pembaca sebagai penikmat karya sastra yang terbentuk dari pengaruh karya yang dibacanya, serta proses resepsi pembaca dalam menikmati karya sastra. Ketiga, pendekatan ekspresif, yang mengkaji aspek psikologis sang penulis ketika melakukan proses kreatif yang terproyeksi lewat karyanya, baik penulis sebagai pribadi maupun wakil masyarakatnya
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan dalam kajian sastra yang menitikberatkan kajiannya pada ekspresi perasaan atau tempramen penulis (Abrams, 1981: 189). Informasi tentang penulis memiliki peranan yang sangat penting dalam kajian dan apresiasi sastra. Penilaian terhadap karya seni ditekankan pada keaslian dan kebaruan (Teew, 1984: 163-165).
Pendekatan ini dititik beratkan pada eksistensi pengarang sebagai pencipta karya seni. Sejauh manakah keberhasilan pengarang dalam mengekspresikan ide-idenya. Karena itu, tinjauan ekspresif lebih bersifat spesifik. Dasar telaahnya adalah keberhasilan pengarang mengemukakan ide-idenya yang tinggi, ekspresi emosinya yang meluap, dan bagaimana dia mengkomposisi semuanya menjadi satu karya yang bernilai tinggi. Komposisi dan ketepatan peramuan unsur-unsur ekspresif di sini akhirnya menjadi satu unsur sentral dalam penilaian. Karya sastra yang didasari oleh kekayaan penjelmaan jiwa yang kompleks tentunya mempunyai tingkat kerumitan komposisi yang lebih tinggi dibanding dengan karya sastra yang kering dengan dasar jelmaan jiwa.
Psikologi sastra adalah suatu kajian yang bersifat tekstual terhadap aspek psikologis sang tokoh dalam karya sastra. Sebagaimana wawasan yang telah lama menjadi pegangan umum dalam dunia sastra, psikologi sastra juga memandang bahwa sastra merupakan hasil kreativitas pengarang yang menggunakan media bahasa, yang diabdikan untuk kepentingan estetis. Karya sastra merupakan hasil ungkapan kejiwaan seorang pengarang, yang berarti di dalamnya ternuansakan suasana kejiwaan sang pengarang, baik suasana pikir maupun suasana rasa/emosi Roekhan (dalam Aminuddin, 1990:88-91).
Psikologi sastra merupakan gabungan dari teori psikologi dengan teori sastra. Sastra sebagai “gejala kejiwaan” di dalamnya terkandung fenomena-fenomena kejiwaan yang nampak lewat perilaku tokoh-tokohnya, sehingga karya teks sastra dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan psikologi. Antara sastra dengan psikologi memiliki hubungan lintas yang bersifat tak langsung dan fungsional, demikian menurut Darmanto Yatman (Aminuddin, 1990:93). Pengarang dan psikolog kebetulan memiliki tempat berangkat yang sama, yakni kejiwaan manusia. Keduanya mampu menangkap kejiwaan manusia secara mendalam. Perbedaannya, jika pengarang mengungkapkan temuannya dalam bentuk karya sastra, sedangkan psikolog sesuai keahliannya mengemukakan dalam bentuk formula teori-teori psikologi.
Berdasarkan paparan tentang “ RUH YANG MENYELIMUTI BAJU PUISI “ Saya sebagai penulis kali ini ingin mengajak kita para pembaca yang berkenan menela’ah /mengkaji puisi karya saya seperti yang tertera dibawah ini;
PUISI
SI RAJA BURUNG NEGRI ZAMRUD
( Sajak Buat Anak Negri Zamrud )
Hoi…Sang burung diangkasa raya
Kau memang raja dari segala raja
Menoleh kekanan berusaha menyapa kami dengan mesra
Cakarmu yang menancap tetap menggenggam tanah leluhur
Kami berteduh dibawah sayapmu
Mengintip dari calah bulu – bulumu
Mengamati takdirmu diketuaan itu
Kakimu yang mulai kapuran dan encokan
Bulu lamamu yang mulai berjatuhan
mengusik kecemasanku
Meski kau berusaha untuk tetap tegar
aku khawatir…
Kerentaanmu yang telah mengeluarkan aroma bau tanah
membuat orang – orang menutup hidung
karna menyengitkan bulu roma
Dan kadang orang – orang celoteh
bahwa kau sudah bergabung bersama para burung hantu
Aku was – was dan betul – betul ketakutan
lagi pula setua ini kau belum juga punya keturunan
Aku tak tahu apakah kau lahir tunggal
dan tak sempat pula kukenal ibu bapakmu
sebab setelah aku lahir kaupun telah ada
Dulu bulu – bulu halusmu lah
yang selalu menghangatkan tidurku dulu
Sang majikan yang menemukanmu sempat menyematkan
rantai bermata lima dilehermu
Dari dulu kau setia dan tak pernah melepasnya
meski kutahu rantai itu kebesaran buatmu
Aku mengerti kau tak kuasa menolaknya
Saat ini permata itu sudah pula kulihat berdebu
Tak sampai pula jangkauan tanganku untuk merawatnya
seperti majikanmu saat itu
embun
hujan
dan terik panas mentari
membuat wajahmu dari hari kehari tambah kerutan danberbintik hitam
Matamu yang berpendar keputihan membuat
pandanganmu tidak bisa menatap mana yang benar dansalah lagi
Kadang genggamanmu pun kulihat gemetar
Orang – orang yang berteduh dibawah bulu sayapmu
hanya memikirkan dirinya sendiri
dan seolah – olah tidak mau mengerti
bahwa mereka masih berlindung dibawah sayap kebesaranmu itu lagi
Kadang mereka berkelahi dan saling mencaci maki karna saling berebut kursi
Permata limamu hampir tak terlihat,
sehingga peraturan yang ada disitu tak terbaca kini
Dan kenapa pula kau seolah – olah tak mengacuhkan yang terjadi
Apakah kau kecewa
tiga energy ruh kekuasaanmu
yang saat ini tinggal dua
menghantui salahmu dulu
Atau kau sudah pasrah dan tawakkal
Pintu kuburkah yang kau bayangkan
Atau kau sudah mati suri
Sebab sudah cukup lama juga kau tak kudengar bernyanyi
Aku tak mau kau seperti slogan pajangan
yang indah dilihat tapi tak berfungsi
para bocah disekolah
para pejabat di apel pagi
para organisasi dipentas bumi
tak pernah terdengar menyanyikan lagumu
Dapatkah kau tangkap dari indra keenammu
bahwa ada yang ingin mencabuti bulu – bulumu
Aku tak kuasa menahan mereka
sebab mereka sangat ramai dan cukup berani
Kalau terus menerus begini
aku takut-aku tinggal sendiri
Liar binar mata mereka
yang memprovoganda banyak orang
akan mengusirmu terbang dari negri zamrut ini
Aku kasihan padamu…
bulu – bulumu yang renta itu
tak akan mampu menerbangkan besar tubuhmu
dan semua ranting dahan di negri orang
telah patah dan hilang karna ditebang
dan tak rela pula aku melepasmu untuk hinggap
diatap gedung pertokoan
sebab aku takut kau ikut dijual
Kesetiaanmu dikhianati disenja ini
padahal akibat beban yang berat itu
selama – lamanya kau tak mampu menoleh kekiri
dan itu pulalah yang membuat orang salah mengerti
nampaknya takdir beda dan ternoda
ditelan zaman bersama mimpi buruk kita
Kalaupun mereka panggil yang lain
untuk menggantikan kedudukanmu
diranting dahan emas itu
sebagai Raja burung di Negri Zamrut ini
aku tak yakin…
Ia tak setia kau dan seperkasamu
Sudahlah…
Jangan kau meneteskan air mata
Ketika mendengar kata – kataku
Aku maklum kerentaan yang membuatmu begini
mudah sedih
mudah tersinggung
tapi biarlah takdir yang menentukan
Dan jangan kecewa dengan ketuaanmu
aku tetap setia padamu mewakili majikanmu dulu
Tertawalah…
hai Raja burung Negri Zamrutku
Tunjukkan kebesaran jiwamu
Jangan buat aku malu karna mengagungkanmu
karna itu cukup membahagiakanku
Meski gemetar dan lesu darahmu
berusahalah bertahan
Aku akan tetap berdoa
Sambil merenda perban hatimu yang luka
Dari : Kamar Puisi
Jl. Jalak 007 Gading 18 Juni 2008
Kota Kerang
Syamsul Rizal,SH alias TOK LAUT
Biografi Singkat Pengarang
Dalam penelitian ekpresif, jika kajian sebuah karya sastra akan dilakukan, maka menurut beberapa para ahli 25 % dari sebuah karya tersebut tetap akan dipengaruhi oleh gejolak physikologis Si Penulis disamping tiga Pendekatan lain yang terdapat dalam 4 ( empat ) pendekatan dalam sebuah karya sastra ( ke-empat pendekatan itu ialah; objektif (objective criticism), ekspresif (expressive criticism), mimetik (mimetic criticism), pragmatik (pragmatic criticism),
Demi penyempurnaan karya sastra yang saya tulis dalam tajuk Antology Puisi “ SINANDONG MENGGUGAT “ dalam Edisi 1 “ SI RAJA BURUNG DI NEGRI ZAMRUD “ ini, saya akan paparkan lintasan peristiwa biography sya secara singkat
Saya sebagai penulis yang menggunakan nama pena “TOK LAUT “ adalah “ SYAMSUL RIZAL “ lahir di, Asahan Mati pada Tanggal , 30 Juni 1965 ( Putra tertua dari Bapak Uspan Syuib Al Haj dan Ibunda Chuzaimah Alwy Munte Al Haj ). Berpredikat sebagai Alumnis Academy Pariwisata Perhotelan Univ.Darma Agung ( 1989)Medan-Sumatera Utara, TMPP ( Tekhnik Management Perencanaan Pembangunan ) pada Fak.Ekonomi Univ.Unsyiah Kuala-Banda Aceh (1997), dan Fak.Hukum Univ-Asahan–Sumatera Utara ( 2008 ).
Tergabung dalam komunitas Pekerja Seni SEBIDUK (1985) dan mendirikan Sanggar Seni Teater ABSTRAK pada tahun tersebut, deklarator “ Youth Movement Of Indonesian Art Tanjungbalai City ( 1999) serta Pembina FEDERASI TEATER INDONESIA Kota Tanjungbalai , Even Organizer WARNA, Aliansi Teater Se Kota Tanjungbalai, Aliansi Band Se Kota Tanjungbalai serta pembina beberapa sanggar dan saaat ini mengabdikan diripada Pemerintah Kota Tanjungbalai dan men-deklarasikan “TOK LAUT CENTER ( art laboratory Tanjungbalai City ).
Dari hasil perkawinan beliau ( Penulis ) dengan HALIMAH br SIAHAAN, merweka dikarunia tiga (3) orang Putra
• AGUNG PRATAMA NUGRAHA
• MOEHAMMED FATHWA NUGRAHA
• AL AFGHAN RAFFSANJANY NUGRAHA
Ketiga Putra ini adalah sumber inspirasi bagi saya sebagai penulis dalam mewujudkan buah karyanya. Sebagai orang gerakan yang pernah tergabung dalam beberapa organisasi di tanah air antara lain,KNPI,BKPRMI,IPTI,LIGA MUSLIM INDONESIA sdan beberapa organisasi lainnya juga mungkin kelihatan mewearnai karya-karya saya.
Disamping sebagai Pekerja Seni, saya juga menyempatkan diri belajar Metafisis pada Padepokan Metafisis TAKWA pimpinan BUYA RAHIM SALABY ( Guru Besar Metafisis Al Quran Indonesia )samapai saat ini. Seluruh aktivitas saya jalani hanya ingin meng-aplikasikan makna zikir hakiki dalam melewati realitas takdir sebagai hamba ALLAH, dan semoga karya-karya yang saya tulis dapat membuka calrawala / pikiran para pembaca khususnya putra-putra saya menuju kebaikan
PUISI SI RAJA BURUNG DI NEGRI ZAMRUD ADALAH KAJIAN PENDEKATAN STRUKTURAL
Puisi di atas adalah puisi karya Tok Laut yang berjudul “ Si Raja Burung di Negri Zamrud “ dari Antology “ Sinandong Menggugat “. Puisi tersebut Saya tulis pada tanggal 18 Juni 2008 karana saat itu kecemasan melanda negri kita, teroris dan ancaman terhadap khebinnekaan kita berada pada titik nadir. Kajian pendekatan struktural dalam Puisi yang saya tulis ini terdiri dari empat hakikat puisi, yaitu tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat ;
SIRAJA BURUNG BUKAN SEKEDAR TEMA BIASA
Tema yang terkandung dalam puisi “Si Raja Burung di Negri Zamrud “ adalah sebuah perasaan ingin mengkabarkan kepada kita semua betapa besarnya keagungan falsapah negri kita yakni PANCASILA yang dalam pamplet cinta kita dilukiskan melalui ANGGUNNYA BURUNG GARUDA. Kuseru kata-kata “ Zamrud “ dalam menempatkan kekayaan alam dan kata pengganti NUSANTARA aalah lambang kemulian yang tiada tara dalam bentuk penghargaan, yakni PERMATA ZAMRUD. Aku sebagai penulis tidak putus asa dan menyerah karna banyaknya orang-orang yang ingin mengusik keanggunan Ponadasi dasar Negriku . Seolah Bung Karno berkata kepadaku ,” Jagalah kemulian yang kami tinggalkan ini dengan menggali dan menjabarkannya pada anak-anak negri kita, sebab kecintaan kita tentang sorganya dunia ada di negri ini ‘ kalianlah yang lebih bisa mengerti sepeninggal kami. Ingat kerja kami belum klimak dan tuntas , cermati dan amati realitas hidupnya GARUDA KITA serta jagalah ia , Jika pada satu ketika kau liahat ia mulai sendirian dan dapat ancaman, kabarkan berita itu kepada semua orang, agar kita dapat tetap berjaga dan mempertahankan kemuliaannya“. Hal tersebut tercermin dalam bait pertama’,
Hoi…Sang burung diangkasa raya
Kau memang raja dari segala raja
Menoleh kekanan berusaha menyapa kami dengan mesra
Cakarmu yang menancap tetap menggenggam tanah leluhur
Kami berteduh dibawah sayapmu
Mengintip dari calah bulu – bulumu
Mengamati takdirmu diketuaan itu
Kakimu yang mulai kapuran dan encokan
Bulu lamamu yang mulai berjatuhan
mengusik kecemasanku
Meski kau berusaha untuk tetap tegar
aku khawatir…
Kerentaanmu yang telah mengeluarkan aroma bau tanah
membuat orang – orang menutup hidung
karna menyengitkan bulu roma
Dan kadang orang – orang celoteh
bahwa kau sudah bergabung bersama para burung hantu
Aku was – was dan betul – betul ketakutan
lagi pula setua ini kau belum juga punya keturunan
Aku tak tahu apakah kau lahir tunggal
dan tak sempat pula kukenal ibu bapakmu
sebab setelah aku lahir kaupun telah ada
GEJOLAK PERASAAN SI RAJA BURUNG DI NEGRI ZAMRUD
Perasaan yang terkandung dalam puisi “ Si Raja Burung di Negri Zamrud “ adalah kecemasan, marah serta lolongan harapan akan keabadian GARUDA kita yang ingin di lucuti banyak orang dalam menjalani realitas hidup. Hal itu tercermin dalam bait ;
Sudahlah…
Jangan kau meneteskan air mata
Ketika mendengar kata – kataku
Aku maklum kerentaan yang membuatmu begini
mudah sedih
mudah tersinggung
tapi biarlah takdir yang menentukan
Dan jangan kecewa dengan ketuaanmu
aku tetap setia padamu mewakili majikanmu dulu
NADA DARI NYANYIAN SIRAJA BURUNG DI NEGRI ZAMRUD
Nada yang digunakan dalam membaca puisi “ Si Raja Burung di Negri Zamrud “ pada bait;
hai Raja burung Negri Zamrutku
Tunjukkan kebesaran jiwamu
Jangan buat aku malu karna mengagungkanmu
karna itu cukup membahagiakanku
Meski gemetar dan lesu darahmu
berusahalah bertahan
Aku akan tetap berdoa
Sambil merenda perban pada hatimu yang luka
” adalah semangat karena penyair tak ingin Bangsa ini terlihat lemah dan tak berdaya lagi serta menyentakkan ketertiduran kita tentang lelapnya kita dari mimpi buruk yang sedang melanda bangsa ini. Semua telah bersikap individu, memikirkan dirinya sendiri, larut dalam buaian neo-liberalisme yang merongrong kewibawaan falsapah kita, Kesetiaanku terhadap pendiri Republik ini kutunjukkan dalam kalimat “ Aku akan tetap bertahan , sambil merenda perban pada hatimu yang luka “
AMANAT DARI PUISI “ SIRAJA BURUNG DI NEGRI ZAMRUD “
Amanat yang ingin kusampaikan dalam puisi ini adalah Aku tidak ingin Pancasila dikhianati, aku adalah kader pencetus Pancasilan ini yang berada pada garda paling depan, bagi siapa saja yang ingin mengkaburkan makna hakiki dari falsapah yang menjadi ruh bangsa ini. Aku Penyair ingin semakin dekat dengan ruh-ruh yang menyelimuti kesaktian Pancasila yang kuyakini sebagai acuan anak negri dalam mencapai hidup penuh makna di negri ini.
Melalui puisi ini , Aku juga mau menyampaikan pesan/amanat bahwa:
Melalui puisi ini , Aku juga mau menyampaikan pesan/amanat bahwa:
• Kita harus cermat dan teliti menyikapi niat dari orang-orang yang ingin mengaburkan nilai dan makna dari Pancasilam
• Kita harus kembali mendalami ruh-ruh yang menyelimuti makna hakiki dari Pancasila yang akan membawa Bangsa ini kearah yang lebih baik
• Kita harus semakin meningkatkan aplikasi dari makna yang terkandung dalam nilai-nilai pancasila daam kehidupan sehari-hari
• Faham-faham lain yang merasuki ruh-ruh pancasila mendekati titik nadir yang harus diwaspadai.
• Kecintaan kita harus mutklak terhadap Pancasila, Pondasi negri ini harus kita cintai dengan cinta yang hakiki .
PHYSIKOLOGY SASTRA “ SI RAJA BURUNG DI NEGRI ZAMRUD “
Para ahli pernah berkata bahwa, asumsi dasar penelitian pikologi sastra dipengaruhi produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar (subconcius) setelah jelas baru dituangkan kedalam bentuk secara sadar (conscius). Dan kekuatan karya sastra dapat dilihat dari seberapa jauh pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu ke dalam sebuah cipta sastra.
Puisi “ SI Raja Burung di Negri Zamrud “ ini, apakah mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan serta ruh-ruh yang menyelimuti nasib anak negri yang tanpa sadar telah dirasuki warna lain terus menggerogoti keperkasaan pondasi negri ini. Apakah dalam Puisi ini imajinasi dan pemikiran tentang “ pencarian makna hakiki dari nilai hidup bangsa kita dapat kita tangkap dengan lugas dan penuh makna, Dapatkah sesuatu yang menjadi tujuan utama dalam puisi ini terbentang seperti hamparan samudera pada pikiran kita. Lalu mampukah karya sastra ini menembus tapal batas yang melahirkan produk kreatifitas yang tahan uji.
Semua akan menjadi kajian kita bersama, kajian yang berdasarkan physikologi sastra ini akan merentang garis lurus menuju karya yang penuh makna.
Dapatkah kau tangkap dari indra keenammu
bahwa ada yang ingin mencabuti bulu – bulumu
Aku tak kuasa menahan mereka
sebab mereka sangat ramai dan cukup berani
Kalau terus menerus begini
aku takut-aku tinggal sendiri
Liar binar mata mereka
yang memprovoganda banyak orang
akan mengusirmu terbang dari negri zamrut ini
Aku kasihan padamu…
bulu – bulumu yang renta itu
tak akan mampu menerbangkan besar tubuhmu
dan semua ranting dahan di negri orang
telah patah dan hilang karna ditebang
dan tak rela pula aku melepasmu untuk hinggap
diatap gedung pertokoan
sebab aku takut kau ikut dijual
Kesetiaanmu dikhianati disenja ini
padahal akibat beban yang berat itu
selama – lamanya kau tak mampu menoleh kekiri
dan itu pulalah yang membuat orang salah mengerti
nampaknya takdir beda dan ternoda
ditelan zaman bersama mimpi buruk kita
Kalaupun mereka panggil yang lain
untuk menggantikan kedudukanmu
diranting dahan emas itu
sebagai Raja burung di Negri Zamrut ini
aku tak yakin…
Ia tak setia kau dan seperkasamu
Ungkapkan rasa emosional tentang apa yang saya rasakan dan pandang, seolah Pancasila sedang lesu darah . alih rasa yang kulakukan lewat imajinasiku terhadap ketidak pedulian kita seolah menghimpit dadaku, tergambar sedikit aku mengeluh, karna dalam alam pikiranku seolah kita semua hampir tak peduli lagi dengan derita yang dialami GARUDA kita. aku merasa sakit hati dan cemas, tetapi disatu sisi aku harus memberi motivasi terhadap GARUDA ku sebagai pertanda bahwa Palsafah itu masih hidup lagi mewakili Sang Proklamator ku, hal itu kugambarkan pada bait puisiku
hai Raja burung Negri Zamrutku
Tunjukkan kebesaran jiwamu
Jangan buat aku malu karna mengagungkanmu
karna itu cukup membahagiakanku
Meski gemetar dan lesu darahmu
berusahalah bertahan
Aku akan tetap berdoa
Sambil merenda perban hatimu yang luka
Pada bait ini, saya mengungkapkan bahwa saya merasa tidak nyaman dengan keadaan yang ada. Sedangkan pada bait puisi berikut ini
aku khawatir…
Kerentaanmu yang telah mengeluarkan aroma bau tanah
membuat orang – orang menutup hidung
karna menyengitkan bulu roma
Dan kadang orang – orang celoteh
bahwa kau sudah bergabung bersama para burung hantu
Aku was – was dan betul – betul ketakutan
lagi pula setua ini kau belum juga punya keturunan
Aku tak tahu apakah kau lahir tunggal
dan tak sempat pula kukenal ibu bapakmu
sebab setelah aku lahir kaupun telah ada
Aku merasa cemas dengan takdir negriku, prilaku masyarakatku yang sering menghantui pikiranku membuat imajinasiku seolah menjadi mereka melontarkan sumpah serapah nya terhadap “SI Raja Burung Di Negri Zamrudku “. Semua imajiner ini mengalir sesuai keadaan yang ada ( Negri besar yang kaya ini berazaskan ekonomi kerakyatan yang dibungkus dengan baju ekonomi paling syariah buatan Sang Proklamator kita Bung Hatta sedang dihadapkan dengan Ekonomi yang berfaham liberalisme buatab Adam Smith asal Scotlandia di Abad ke 16 yang membuming diseantero jagad raya akibat profoganda barat)
NILAI DARI BUKU KEHIDUPAN
Dalam puisi” Si Raja Burung di Negri Zamrud “, Penulis ingin menyampaikan nilai-nilai pendidikan yang dapat memacu semangat patriotisme, semagat wasiat jasmerahnya Bung Karno, dan semangat silaturahmi yang mengakar ( nilai hakiki kebhinnekaan ) . Selain itu penulis juga ingin memproklamirkan nilai moral yang terasa erosi ditelan nilai-nila global. Apakah puisi “ Raja Burung di Negri Zamrud “ dapat menjadi sebuah karya sastra yang memberikan kontribusi positif bagi para pembaca. Realitas hidup puisi “ Si Raja Burung di Negri Zamrud “ akan menjalani takdirnya sendiri sesuai dengan kapasitas yang dibawanya.
DASAR-DASAR BERMAIN SENI PERAN ( DRAMA )
I. PENDAHULUAN
Drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media percakapan(dialog), gerak dan tingkah laku. Naskah merupakan hal utama dalam bermain drama (modern) karena ia merupakan panduan bagi para pemeran (aktor) di atas pentas. Selain naskah, ada unsur-unsur lain yang sangat menentukan yaitu dekorasi (setting), musik, lighting, make up,kostum,nyanyian, tarian, dan unsur penunjang lainnya.
II. NASKAH
Naskah di sini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat di mana dimainkan naskah tersebut. Selain dialog, sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, tokoh dan plot atau rangka cerita.
DIALOG
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para tokoh harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.
TEMA
Tema adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan tokoh-tokohnya.
TOKOH
Dalam cerita drama tokoh merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang tokoh haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik.
DIMENSI
Disamping itu, dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang tokoh. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu:
Dimensi fisiologi (ciri-ciri badani) antara lain: usia, jenis kelamin, keadaan tubuh dan cirri-ciri muka.
Dimensi sosiologi (latar belakang) kemasyarakatan misalnya status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dan sebagainya.
Dimensi psikologis (latar belakang kejiwaan) misalnya temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dan lain sebagainya. Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi diatas, maka tokoh yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.
PLOT
Plot adalah alur atau kerangka cerita. Plot merupakan suatu keseluruhan peristiwa didalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:
• Pemaparan(eksposisi)
Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita. Pada umumnya bagian ini disajikan dalam bentuk sinopsis.
• Komplikasi awal atau konflik awal.
Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.
• Klimaks dan krisis Klimaks
Dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.
• Penyelesaian (denouement)Drama
Terdiri dari sekian adegan yang di dalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian
III. LATIHAN DASAR
Dalam bermain drama ada yang disebut dengan akting. Akting adalah pelafalan dialog (yang tertulis di dalam naskah) disertai dengan gerak atau gesture. Seorang aktor dikatakan baik apabila ia sanggup membawakan dialog sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. Dialog itu bisa terdengar (volume baik), jelas (artikulasi baik), dimengerti (lafal benar), dan aktor bisa menghayati sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah. Seorang aktor yang baik akan mampu membawakan dialog tersebut dengan gerak yang pas (tidak berlebihan atau dibuat-buat). Ia bergerak dengan leluasa (blocking baik) tidak ragu ragu ( meyakinkan), dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan), dan juga bisa menghayati sesuai dengan tuntutan peran yang ditentukan dalam naskah.
BLOCKING
Blocking adalah kedudukan aktor pada saat di atas pentas. Dalam permainan drama, blocking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak blocking. Blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.Jelas, tidak ragu ragu, meyakinkan. Kesemuanya itu mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan setengah setengah dan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting.
Beberapa prinsip dasar dalam mengolah blocking di antaranya:
1. Dimengerti (jelas)
Apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb. Blocking harus memiliki motivasi yang jelas berarti gerak-gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah.
2. Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai "Komposisi Pentas".
3. Utuh
Utuh berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.
4.Bervariasi
Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.
5. Memiliki titik pusat
Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.
6. Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan. Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut blocking yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama sekali meninggalkan prinsip - prinsip blocking. Ada juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam diantara para pemainnya.
MEDITASI
Secara umum arti meditasi adalah mencoba untuk menenangkan pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.
Tujuan Meditasi:
1. Mengosongkan pikiran.
Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas dari segala beban dan ikatan.
2. Meditasi sebagai jembatan.
Disini alam latihan kita sebut sebagai alam "semu", karena segala sesuatu yang kita kerjakan dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah kita memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita sehari-hari ke alam latihan.
Cara meditasi:
1.Posisi tubuh tidak terikat,
dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi bidang/ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.
2.Atur pernapasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuh kita. Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada disekeliling kita dengan segala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak. Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk berkonsentrasi.
• Catatan:
Pada suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilakukan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita dengan peran yg hendak kita bawakan.
KONSENTRASI
Konsentrasi secara umum berarti "pemusatan". Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.
Cara konsentrasi:
Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi. Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.
• Catatan:
Pada saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis pemalu dan sebagainya, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.
PERNAPASAN
Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, maka untuk memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.
Ada empat macam pernapasan yang biasa dipergunakan:
1. Pernapasan dada
Pada pernapasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita membusung. Di kalangan orang orang teater pernapasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/akting sang aktor, karena bahu menjadi kaku.
2. Pernapas Perut
Dinamakan pernapasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalamperut sehingga perut kita menggelembung. Pernapasan perut dipergunakan oleh sebagian dramawan, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.
3. Pernapasan lengkap
Pada pernapasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum). Pernapasan lengkap dipergunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan akting, tetapi mengutamakan vokal.
4. Pernapasan diafragma
Diafragma adalah bagian tubuh kita yang terletak diantara rongga dada dan perut. Sedangkan yang dimaksud dengan Pernapasan diafragma adalah ketika sang aktor itu mengambil udara sebanyak-banyaknya kemudian disimpan di diafragma dan rasakan bahwa diafragma itu benar-benar mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.
Menurut perkembangan akhir akhir ini, banyak orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.
latihan pernapasan:
Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam keadaan demikian tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah. Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan kembali.
Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.
Cara berikutnya adalah menarik napas dalam dalam, kemudian keluarkan lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara cara lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vokal. *Catatan: Bila sudah menentukan pernapasan apa yang akan kita pakai, disarankan agar janganlah beralih ke bentuk pernapasan yang lain.
VOKAL
Untuk menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar vokal yang baik pula. "Baik" di sini diartikan sebagai berikut:
• dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang),
• jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat)
• tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan, dan
- tidak monoton.
Untuk mempunyai vokal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan latihan vokal. Banyak cara, yang dilakukan untuk melatih vokal, antara lain:
• Tariklah napas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menghentakan suara "wah…" dengan energi suara. Lakukan ini berulang kali.
• Tariklah napas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam "mmm…mmm…" (suara keluar lewat hidung).
• Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,"ssss……."
• Hirup udara banyak banyak, kemudian keluarkan vokal "aaaaa……." sampai batas napas yang terakhir. Nada suara jangan berubah.
• Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik turun (dalam satu tarikan napas)
• Keluarkan vokal "a…..a……" secara terputus-putus.
• Keluarkan suara vokal "a i u e o", "ai ao au ae ", "oa oi oe ou", "iao iau iae aie aio aiu oui oua uei uia ......" dan sebagainya.
• Berteriaklah sekuat kuatnya sampai ke tingkat histeris.
• Bersuara, berbicara, berteriak sambil berialan, jongkok, bergulung gulung, berlari, berputar-putar dan berbagai variasi lainnnya.
*Catatan:
Apabila suara kita menjadi serak karena latihan latihan tadi, janganlah takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan. Sebabnya adalah karena lendir lendir di tenggorokan terkikis, bila kita bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah terlalu memaksa alat alat suara untuk bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan dapat merusak alat alat suara kita. Berlatihlah dalam batas-batas yang wajar. Latihan ini biasanya dilakukan di alam terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara suara di sekitar kita, disamping untuk menghayati karunia Tuhan.
ARTIKULASI
Artikulasi yang dimaksud adalah pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata-kata yang diucapkan. Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mongakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu:
1. Cacat artikulasi alami: cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon, misalnya "r", dan sebagainya.
2. Artikulasi jelek; ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog.
Misalnya:
Kehormatan menjadi kormatan, menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.
Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya. Sedangkan artikulasi menjadi tak tentu: hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.
Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan:
Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik. Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.
INTONASI
Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan tekanan yang diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu:
• Tekanan Dinamik (keras lemah)
Ucapkanlah dialog pada naskah dengan melakukan penekanan penekanan pada setiap kata yang memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat "Saya membeli pensil ini" Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda. Misal: SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual) Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)
• Tekanan Nada (tinggi)
Cobalah mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah ubah. Jadi yang dimaksud dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.
• Tekanan Tempo
Tekanan tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda beda. Lambat atau cepat silih berganti.
WARNA SUARA
Hampir setiap orang memiliki warna suara yang berbeda. Demikian pula usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya saja seorang kakek, akan berbeda warna suaranya dengan seorang anak muda. Seorang ibu akan berbeda warna suaranya dengan anak gadisnya. Apalagi antara laki laki dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya. Jadi jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog dengan baik, maka selain harus memperhatikan artikulasi, gestikulasi dan intonasi, harus memperhatikan juga warna suara. Sebagai latihan dapat dicoba merubah rubah warna suara dengan menirukan warna suara seorang tua, pengemis, anak kecil, dan lain sebagainya.
Selain mengenai dasar dasar vokal di atas, dalam sebuah dialog diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan ini akan diterangkan dalam bagian tersendiri. Untuk latihan cobalah membaca naskah berikut ini dengan menggunakan dasar dasar vokal seperti di atas.
(Kang Dul masuk tergopoh gopoh)
Kang Dul : Aduh Mas….e…..e…..itu, Mas…. Anu…. Mas….a….a….ada mahasiswa bawa mobil, pakaiannya bagus. Saya takut, Mas, mungkin dia orang kota, Mas.
Bambang: Goblog ! Kenapa Takut ? Kenapa tidak kau kumpulkan saja orang-orangmu untuk mengusirnya ?
Pak Slamet: (kepada Bambang) Kau lebih-lebih Goblog ! Kau membohongi saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah tidak ada orang kota yang masuk kedaerah kita, hei ! (sambil mencengkeram Bambang).
Bambang: Sungguh, Pak, sudah lama tidak ada orang kota yang masuk.Pak Slamet: (membentak sambil mendorong) Diam Kamu !(kepada Kang Dul) Di mana dia sekarang ?
Kang Dul: Di sana Pak, nongkrong di kantin sambil main leptop.
GESTIKULASI
Gestikulasi adalah suatu cara untuk memenggal kata dan memberi tekanan pada kata atau kalimat pada sebuah dialog. Jadi seperti halnya artikulasi, gestikulasi pun merupakan bagian dari dialog, hanya saja fungsinya yang berbeda. Gestikulasi tidak disebut pemenggalan kalimat karena dalam dialog satu kata dengan satu kalimat kadang kadang memiliki arti yang sama.
Misalnya kata "Pergi !!!!" dengan kalimat "Angkat kaki dari sini !!!". Juga dalam drama bisa saja terjadi sebuah dialog yang berbentuk "Lalu ?" , "Kenapa ?" atau "Tidak !" dan sebagainya. Karena itu diperlukan suatu ketrampilan dalam memenggal kata pada sebuah dialog. Gestikulasi harus dilakukan, sebab kata kata yang pertama dengan kata berikutnya dalam sebuah dialog dapat memiliki maksud yang berbeda. Misalnya: "Tuan kelewatan. Pergi!". Antara "Tuan kelewatan" dan "Pergi" harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang berbeda. Hal ini dilakukan agar lebih lancar dalam memberikan tekanan pada kata. Misalnya "Tuan kelewatan"....... (mendapat tekanan), "Pergi…." (mendapat tekanan).
OLAH TUBUH
Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mempelajari seluk beluk gerak, maka terlebih dahulu kita harus mengenal tentang olah tubuh. Olah tubuh (bisa juga dikatakan senam), sangat perlu dilakukan sebelum kita mengadakan latihan atau pementasan. Dengan berolah tubuh kita akan, mendapat keadaaan atau kondisi tubuh yang maksimal. Selain itu olah tubuh juga mempunyai tujuan melatih atau melemaskan otot otot kita supaya elastis, lentur, luwes dan supaya tidak ada bagian bagian tubuh kita yang kaku selama latihan-latihan nanti.
Pelaksanaan olah tubuh:Pertama sekali mari kita perhatikan dan rasakan dengan segenap panca indera yang kita punyai. Dengan memakai rasa kita perhatikan seluruh tubuh kita, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Sekarang mari kita menggerakkan tubuh kita.
• Jatuhkan kepala ke depan. Kemudian jatuhkan ke belakang, ke kiri, ke kanan. Ingat kepala/leher dalam keadaan lemas, seperti orang mengantuk.
• Putar kepala pelan pelan dan rasakan lekukan lekukan di leher, mulai dari muka. kemudian ke kiri, ke belakang dan ke kanan. Begitu seterusnya dan lakukan berkali kali. Ingat, pelan pelan dan rasakan !
• Putar bahu ke arah depan berkali kali, juga ke arah belakang. Pertama satu-persatu terlebih dahulu, baru kemudian bahu kiri dan kanan diputar serentak.
• Putar bahu kanan ke arah depan, sedangkan bahu kiri diputar ke arah belakang. Demikian pula sebaliknya.
• Rentangkan tangan kemudian putar pergelangan tangan, putar batas siku, putar tangan keseluruhan. Lakukan berkali kali, pertama tangan kanan dahulu, kemudian tangan kiri, baru bersama sama.
• Putar pinggang ke kiri, depan, kanan, belakang. Juga sebaliknya.
• Ambil posisi berdiri yang sempurna, lalu angkat kaki kanan dengan tumpuan pada kaki kiri. Jaga jangan sampai jatuh. Kemudian putar pergelangan kaki kanan, putar lutut kanan, putar seluruh kaki kanan. Kerjakan juga pada kaki kiri sesuai dengan cara di atas.
• Sebagai pembuka dan penutup olah tubuh ini, lakukan iari lari di tempat dan meloncat loncat.
Macam Macam Gerak:
Setiap orang memerlukan gerak dalam hidupnya. Banyak gerak yang dapat dilakukan manusia. Dalam latihan dasar teater, kita juga harus mengenal dengan baik bermacam macam gerak Latihan latihan mengenai gerak ini harus diperhatikan secara khusus oleh seseorang yang berkecimpung dalam bidang teater.
Pada dasarnya gerak dapat dibagi menjadi dua, yaitu
Gerak teaterikal
Gerak teaterikal adalah gerak yang dipakai dalam teater, yaitu gerak yang lahir dari keinginan bergerak yang sesuai dengan apa yang dituntut dalam naskah. Jadi gerak teaterikal hanya tercipta pada waktu memainkan naskah drama.
Gerak non teaterikal
Gerak non teaterikal adalah gerak kita dalam kehidupan sehari hari. Gerak yang dipakai dalam teater (gerak teaterikal) ada bermacam macam, secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua, yaitu gerak halus dan gerak kasar.
Gerak Halus
Gerak halus adalah gerak pada raut muka kita atau perubahan mimik, atau yanq lebih dikenal lagi dengan ekspresi. Gerak ini timbul karena pengaruh dari dalam/emosi, misalnya marah, sedih, gembira, dan sebagainya.
Gerak Kasar
Gerak kasar adalah gerak dari seluruh/sebagian anggota tubuh kita. Gerak ini timbul karena adanya pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Gerak kasar masih dapat dibagi menjadi empat bagian. yaitu:
Business,
adalah gerak gerak kecil yang kita lakukan tanpa penuh kesadaran Gerak ini kita lakukan secara spontan, tanpa terpikirkan (refleks). Misalnya:- sewaktu kita sedang mendengar alunan musik, secara tak sadar kita menggerakgerakkan tangan atau kaki mengikuti irama musik.- sewaktu kita sedang belajar/membaca, kaki kita digigit nyamuk. Secara refleks tangan kita akan memukul kaki yang tergigit nyamuk tanpa kehilangan konsentrasi kita pada belajar.
Gestures,
adalah gerak gerak besar yang kita lakukan. Gerak ini adalah gerak yang kita lakukan secara sadar. Gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/otak kita Untuk melakukan sesuatu, misalnya saja menulis, mengambil gelas, jongkok, dsb.
Movement,
adalah gerak perpindahan tubuh dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung gulung, melompat, dsb.
Guide,
adalah cara berjalan. Cara berjalan disini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak kecil, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk, dsb.
Setiap gerakan yang kita lakukan harus mempunyai arti, motif dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan harus diyakini benar-benar oleh seorang pemain apa maksud dan maknanya ia melakukan gerakan yang demikian itu. Dalam latihan gerak, kita mengenal latihan "gerak-gerak dasar". Latihan mengenai gerak-gerak dasar ini kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu:
• Gerak dasar bawah: posisinya dalam keadaan duduk bersila. Di sini kita hanya boleh bergerak sebebasnya mulai dari tempat kita berpijak sampai pada batas kepala kita
• Gerak dasar tengah: posisi kita saat ini dalam keadaan setengah berdiri. Di sini kita diperbolehkan bergerak mulai dari bawah sampai diatas kepala
• Gerak dasar atas: di sini kita boleh bergerak sebebas-bebasnya tanpa ada batas.
Dalam melakukan gerak-gerak dasar diatas kita dituntut untuk berimprovisasi / menciptakan gerak-gerak yang bebas, indah dan artistik.
Latihan-latihan gerak yang lain:
• Latihan cermin.Dua orang berdiri berhadap-hadapan satu sama lain. Salah seorang lalu membuat gerakan dan yang lain menirukannya, persis seperti apa yang dilakukan temannya, seolah-olah sedang berdiri didepan cermin. Latihan ini dilakukan bergantian.
• Latihan gerak dan tatap mata
Sama dengan latihan cermin, hanya waktu berhadapan mata kedua orang tadi saling tatap, seolah kedua pasang mata sudah saling mengerti apa yang akan digerakkan nanti.
Latihan melenturkan tubuh
• Seseorang berdiri dalam keadaan lemas. Kemudian seorang lagi membantu mengangkat tangan temannya. Setelah sampai atas dijatuhkan. Dapat juga sebelum dijatuhkan lengan / tangan tersebut diputar-putar terlebih dahulu.
• Latihan gerak bersamaSuatu kelompok yang terdiri dari beberapa orang melakukan gerakan yang sama seperti dilakukan oleh pemimpin kelompok tersebut, yang berdiri didepan mereka.
• Latihan gerak mengalir
Suatu kelompok yang terdiri beberapa orang saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran. Kemudian salah seorang mulai melakukan gerakan ( menggerakkan tangan atau tubuh ) dan yang lain mengikuti gerakan tangan orang yang menggandeng tangannya. Selama melakukan gerakan, tangan kita jangan sampai terlepas dari tangan teman kita. Latihan ini dilakukan dengan memejamkan mata dan konsentrasi, sehingga akan terbentuk gerakan yang artistik.
GERAK DAN VOKAL
Setelah kita berlatih tentang vokal dan gerak secara terpisah, maka sekarang kita mencoba untuk memadukan antara vokal dan gerak. Banyak bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain mengucapkan kalimat yang panjang sambil berlari-lari, melompat, jongkok, bergulung-gulung, atau juga bisa dengan memutar-mutar kepala, memutar-mutar tubuh, dan sebagainya. Latihan ini berguna sekali bagi kita pada waktu acting. Tujuannya adalah agar vokal dan gerak kita selalu serasi, agar gerak kita tidak terlalu banyak berpengaruh pada vokal.
PENGGUNAAN PANCAINDERA
Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima panca indera secara utuh. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan panca indera kita tersebut, baik secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Dalam teater kita juga harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat memainkan suatu peran dengan baik pula.
Supaya alat-alat indera kita dapat bekerja semaksimal mungkin, tentu saja harus dilatih. Hal ini sangat perlu dalam teater untuk membantu kita dalam membentuk ekspresi. Bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain:
Mata
Duduk bersila sambil menatap suatu titik di dinding. Konsentrasi hanya pada titik tersebut. Usahakan menatap titik tersebut tanpa berkedip, selama mungkin.
Telinga
Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara itu seseorang mengetuk-ngetuk sesuatu pada beberapa macam benda, dimana setiap benda memiliki nada / suara yang berlainan. Hitunglah berapa kali ketukan pada benda yang sudah ditentukan.
Duduklah ditepi jalan yang ramai, sambil memejamkan mata. Cobalah untuk mengenali suara apa saja yang masuk ke telinga, misalnya suara truk, bus, sepeda motor, suara tawa seseorang diatas sepeda motor, suara sepatu diatas trotoar,dsb.
Hidung
Duduk ditepi jalan sambil memejamkan mata, kemudian cobalah untuk mengenali bau apa yang ada disekitar kita. Misalnya bau keringat orang yang lewat didepan kita, bau parfum, asap knalpot, asap rokok, atau tanah yang baru disiram hujan, dsb.
Ciumlah tangan, kaki, pakaian, dan jika bisa seluruh tubuh kita, rasakan dan hayati benar-benar bagaimana baunya.
Kulit
Rabalah tangan, kaki, kepala dan seluruh tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah tubuh kita itu, cari perbedaan antara setiap tubuh. Rabalah dinding, lantai, meja, atau benda-benda lain. Perhatikanlah bagaimana rasanya, dingin atau panas. Juga sifatnya halus atau kasar dan coba juga mengenali bentuknya. Lakukan latihan ini dengan mata terpejam.
Lidah
Rabalah dengan lidah bagaimana bentuk mulut kita, bagaimana bentuk gigi, langitlangit, bibir, dan sebagainya.Rasakan dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancingbaju, sapu tangan, batang pensil, tangan yang berkeringat,dsb.
KARAKTERISASI
Karakterisasi adalah suatu usaha untuk menampilkan karakter atau watak dari tokoh yang diperankan. Tokoh-tokoh dalam drama, adalah orang-orang yang berkarakter. Jadi seorang pemain drama yang baik harus bisa menampilkan karakter dari tokoh yang diperankannya dengan tepat. Dengan demikian penampilannya akan menjadi sempurna karena ia tidak hanya menjadi figur dari seorang tokoh saja, melainkan juga memiliki watak dari tokoh tersebut.
Agar kita dapat memainkan tokoh yang berkarakter seperti yang dituntut naskah, maka kita harus terlebih dahulu mengenal watak dari tokoh tersebut. Suatu misal, kita dapat peran menjadi seorang pengemis. Nah, kita harus mengenal secara lengkap bagaimana sifat-sifatnya, tingkah lakunya, dsb. Apakah dia seorang yang licik, pemberani, atau pengecut, alim, ataukah hanya sekedar kelakuan yang dibuat-buat.
Demikianlah, kita menyadari bahwa untuk memerankan suatu tokoh, kita tidak hanya memerankan jabatannya, tetapi juga wataknya. Misalnya:Tokoh (A) … jabatan (lurah) … watak (licik, pura-pura, pengecut)Tokoh (B) … jabatan (jongos) … watak (baik hati, ramah, jujur, mengalah)Untuk melatih karakteristik dapat dipakai cara sebagai berikut:
Dengan menirukan gerak-gerak dasar yang biasa dilakukan oleh pengemis, kakek, anak kecil, pemabuk, orang buta, dsb. (yang dimaksud dengan gerak-gerak dasar disini adalah cirri-ciri khas)
Dua orang atau lebih, berdiri dan berkonsentrasi, kemudian salah satu memberi perintah kepada temannya untuk bertindak / berlaku sebagai tokoh dari apa yang diceritakan. Untuk membantu memberi suasana, dapat memakai musik pengiring.
Untuk memperdalam mengenai karakteristik, maka agaknya perlu juga kita mempelajari observasi, ilusi, imajinasi dan emosi. Untuk itu marilah kita kenali satu persatu.
OBSERVASI
Observasi adalah suatu metode untuk mempelajari / mengamati seorang tokoh. Bagaimana tingkah lakunya, cara hidupnya, kebiasaannya, pergaulannya, cara bicaranya, dsb. Setelah kita mengenal segala sesuatu tentang tokoh tersebut, kita akan mengetahui wujud dari tokoh itu. Setelah itu baru kita menirukannya. Dengan demikian kita akan menjadi tokoh yang kita ingini.
ILUSI
Ilusi adalah bayangan atas suatu peristiwa yang akan terjadi maupun yang telah terjadi, baik yang dialami sendiri maupun yang tidak. Kejadian itu dapat berupa pengalaman, hasil observasi, mimpi, apa yang dilihat, dirasakan, ataupun angan-angan, kemungkinan-kemungkinan, ramalan, dan lain sebagainya.
Cara-cara melatihnya antara lain:Menyampaikan data-data tentang suatu kecelakaan, kebakaran, dsb.Bercerita tentang perjalanan keliling pulau Jawa, ketika dimarahi guru, dsb. Menyampaikan pendapat tentang lingkungan hidup, sopan santun dikampung, dsb.
Menyampaikan keinginan untuk menjadi raja, polisi, dewa, burung, artis, dsb.
Berangan-angan bahwa kelak akan terjadi perang antar planet, dsb.
IMAJINASI
Imajinasi adalah suatu cara untuk menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi obyeknya adalah peristiwa, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu yang dibendakan. Tujuannya adalah agar kita tidak hanya selalu menggantungkan diri pada benda-benda yang kongkrit. Juga diatas pentas, penonton akan melihat bahwa apa yang ditampilkan tampak benar-benar terjadi walaupun sesungguhnya tidak terlihat, benar-benar dialami sang pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji bilamana kita sedang memainkan sebuah pantomim.
Sebagai contoh, dalam naskah OBSESI, terjadi dialog antara pemimpin koor dengan roh suci. Roh suci disini hanya terdengar suaranya, tetapi pemain harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Dalam contoh lain dapat kita lihat pada sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah dialog, sebagai berikut: "Hei letnan, coba perhatikan perempuan berkaca mata gelap didepan toko itu. Perhatikan topi dan tas hitam yang dipakainya. Rasa-rasanya aku pernah melihat tas dan topi itu dipakai Nyonya Lisa beberapa saat sebelum terjadi pembunuhan". Yang dibicarakan tokoh diatas sebenarnya hanya khayalan saja. Perempuan berkaca mata gelap, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat atau tidak tampak dalam pentas.
Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi adalah benda atau sesuatu yang dibendakan, termasuk disini segala sifat dan keadaannya. Sebagai latihan dapat dipakai cara-cara sebagai berikut: Sebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang terlintas di otak kita. Jangan sampai menyebutkan sebuah benda lebih dari satu kali.
Sebutkan sebuah benda yang tidak ada disekitar kita kemudian bayangkan dan s ebutkanbentuk benda itu, ukurannya, sifatnya, keadaannya, warna, dsb. Menganggap atau memperlakukan sebuah benda lain dari yang sebenarnya. Contohnya, menganggap sebuah batu adalah suatu barang yang sangat lucu, baik itu bentuknya, letaknya, dsb. Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa terpingkal-pingkal. Menganggap sesuatu benda memiliki sifat yang berbeda-beda. Misalnya sebuah pensil rasanya menjadi asin, pahit, manis kemudian berubah menjadi benda yang panas, dingin, kasar, dsb.
EMOSI
Emosi dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan. Emosi dapat berupa perasaan sedih, marah, benci, bingung, gugup, dsb. Dalam drama, seorang pemain harus dapat mengendalikan dan menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memberikan warna bagi tokoh yang diperankan dan untuk menunjang karakter tokoh tersebut. Emosi juga sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, roman muka (ekspresi), pengucapan dialog, pernapasan, niat. Niat disini timbul setelah emosi itu terjadi, misalnya setelah marah maka tinbul niat untuk memukul, dsb.
PENGHAYATAN
Penghayatan adalah mengamati serta mempelajari isi dari naskah untuk diterpakan tubuh kita. Misalnya pada waktu kita berperan sebagai Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita tidak lagi berperan sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan baik jika kita akan memainkan sebuah naskah drama.
Cara-cara yang dipergunakan dalam penghayatan adalah:Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat mengetahui apa yang dikehendaki oleh naskah, problema apa yang ditonjolkan, serta apa titik tolak dan inti dari naskah.Melakukan gerak serta dialog yang terdapat dalam naskah. Jadi disini kita sudah mendapat gambaran tentang aktingdari tokoh yang akan kita perankan.Sebagai latihan cobalah membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai pembantu pemberi suasana. Hayati dulu musiknya baru mulailah membaca.
IV. KOMPOSISI PENTAS
Komposis pentas adalah pembagian pentas menurut bagian-bagian yang tertentu. Komposisi pentas ini dibuat untuk membantu blocking, dimana setiap bagian pentas mempunyai arti tersendiri.
Kadar kekuatan pentas dapat dilihat pada urutan penempatannya. Bagian depan lebih kuat daripada bagian belakang. Bagian kanan lebih kuat daripada bagian kiri. Oleh karena itu jangan menempatkan diri atau benda yang kadar kekuatannya tinggi pada bagian yang kuat. Carilah tempat-tempat yang sesuai agar blocking kelihatan seimbang. Walaupun demikian harus tetap dalam batas-batas yang wajar, jangan terlalu dibuat-buat
V.PENUTUP
Mengenal dunia teater sama halnya mengenal realitas hidup, belajar hidup, membangun karakter serta memaknai hidup sebagai anugrah hakiki dari nilai –nilai yang sakral.
MEMORIAM’
KYAI HAJI ABDURAHMAN BIN KYAI HAJI FAKHRI
&
SITI JAMINTAN BIN KYAI HAJI ABU BAKAR
SINOPSIS
Perang Diponegoro adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830). Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah jawa, maka perang ini disebut sebagai PERANG JAWA. Sekilas fakta sejarah yang penulis paparkan ini adalah benang merah yang merentang kisah “ Kyai H.Abdurahman bin Kyai H Fakhri dan Siti Jamintan bin Kyai H Abu Bakar “ ( Sang Kakek/Nenek Buyut kita ) .
Siapa mereka dan bagaimana pula kisahnya…
Disini penulis berupaya menyingkap tirai fakta yang benar-benar ada, tak ada yang di tutup-tutupi, semua kita bentang secara terbuka, sebab akar sejarah ini adalah dasar kita untuk mengkaji hal-hal apa saja yang terjadi hari ini dan esok bagi keluarga besar ini , baik secara phisykologis maupun secara genetic maupun metafisis, semua punya rentetan dari benang merah yang merentang sejarah kita.
Sebuah niat yang tulus dan rasa hormat bagi sesepuh pokok turunan kita, maka penulis ingin memberi cermin bagi kita semua , khusus buat putra-putraku(Agung Pratama Nugraha – Mohammed Fathwa Nugraha – Al Afghan Raffsanjany Nugraha serta seluruh keponakan ), ada yang ingin penulis kabarkan bahwa kita tumbuh dari sebuah komunitas keluarga yang sederhana sekali, namun kita tidak pernah kehilangn jiwa besar dan indentitas diri. Itu semua adalah realitas takdir yang diperankan kakek buyut kita dalam ;
“ PRAHARA CINTA SANG KYAI DI TANAH DELI “
Kenapa pertunangan antara “Abdurrahman “ dengan “ Siti Jamintan “ yang telah mendapat restu dari kedua belah pihak yakni Kyai H Fakhri ( orang tua dari pihak pria/Abdurahman) dan Kyai H Aabu Bakar ( orang tua dari pihak prempua/Siti Jamintan ) gagal…
Jawabnya adalah situasi pergolakan perang Diponegoro tidak seperti yang tertuang dalam sejarah(1825-1830) tetapi punya rentetan panjang kedepan dari tahun yang ada dalam fakta sejarah, sehingga membuat Keluarga Kyai H.Fakhri dan Kyai H.Abu Bakar harus hijrah dari pulau jawa demi mennyelamatkan diri dari penyiksaan sang Penjajah. Hijrah dari satu tempat ketempat lain hingga akhirnya takdir mengukir hidup mereka sampai ke tanah jazirah Arab ( Mekkah ).
Beberapa tahun di Mekkah menjalani aktivitas hidup, disanalah Abdurahman menimba ilmu agama islam. Selama di pengasingan terdengar kabar, bahwa beberapa penduduk jawa harus di werek ( kerja pakasa ) ke sumatera pada perkebunan tembakau di tanah Deli. Para penduduk jawa baik laki-laki maupun wanita dikirim dengan kapal perang milik Belanda, dan disaat itulah Siti Jamintan terperangkap dan terpisah dengan keluarganya.
Untuk menghindari hal-hal negatif yang bertentangan dengan perjalanannya ke sumatera’ Siti Jamintan mengambil sikap untuk menerima pendekatan yang dilakukan seorang pria Sadimin yang pada ketika itu dianggapnya dapat melindungi dirinya ( meski gejolak dalam jiwanya tetap mengagungkan rasa kasih yang utuh untuk sang kekasih tercinta yakni pria tampan yang menawan hatinya Abdurahman).
Rasa gelisah dan cemas mewarnai hari-hari Siti Jamintan dan alam pikirann tetap menerawang …Kemanakah Sang kekasih menyelamatkan diri dari buruan penjajah…belum lagi pikiran yang cukup sedih terus membuntuti perasaannya tentang Ayahanda tercinta Kyai H Abu Bakar bersama Ibunda dan adik-adiknya…entah berada dimana dan bagaimana nasibnya…
Kapal terus melaju memecah gelombang menuju daratan Sumatera dari Pulau Jawa, disaat itu perasaan Siti jamintan penuh dengan pikiran kisruh, namun Ia harus menampakkan wajah terhormat dan santun dengan senyum kepada Sadimin agar Ia terlindungi dari hal-hal negative di suasana perjalanan diatas kapal saat itu.
Sementara dibelahan dunia lain reaitas takdir Abdurahman dan Ayahnya Kyai H Fakhri serta beberapa kerabat yang bisa ikut dalam hijrah itu sedang menerima cobaan dari Allah……...liang luka yang dalam harus diterima dengan lapang dada oleh Abdurahman, sebab detik-detik terakhir Kyai H Fakhri yang pesat dengan pesan moral terhadap
ananda tersayangnya Abdurahman mengukir kenangan terakhir tatkala Kyai H Fakhri menghembuskan napas terakhir menghadap Sang Khalik-Nya.
Entah pesan apa yang dibisikkan Sang Ayahanda kepadanya, namun setelah wafat’ Abdurahman selalu diam dan seolah-olah yang dipikirkannya cukup berat. Apakah pikirannya terus terpatri pada gadis pujaannya ditengah Ia baru mengalami kehilangan seorang ayah yang Ia teladani selama ini…atau itukah pesan moral yang ia terima dari sang Ayah disaat terakhir…atau adakah missi yang Ia emban dari wasiat terakhir tentang penyebaran Islam kedepan di Tanah air.
Rasa gelisah dan cemas mewarnai hari-hari kedua insan itu dari tempat yang berbeda, alam pikiran menerawang kesenja temaran dan tanya terus tertatih berjalan menuju persemadian dalam jiwa, dimanakah kau sang terkasih…
langit terkoyak diterpa prahara
bumi luluh diterjang bahana jiwa
batin meronta menguak takdir
tersungkur pada malam tahajjud yang bergetar syahdu
adalah rumah tua yang sering mereka kunjungi
dalam melepas rindu…
aku bukan sang srikandi srigala
yang menghela napas darah dahaga
yang mampu menghapus kenangan lama
Siti Jamintan diselimuti alam yang memilukan … haru dan sedih mewarnai pikirannya tentang Ayahanda tercinta Kyai H.Abu Bakar dan ibunda serta adik-adiknya….entah berada dimana dan bagaimana nasibnya…
Disaat itu pula pikiran Abdurahman terus menggoda hari-harinya untuk kembali ke tanah air, akhirnya Abdurahman memutuskan pulang.Perjalanan panjang dari negara ke negara lain membuat Abdurahman kadang waktu harus tinggal beberapa tahun di negara orang seperti Sabah dan Kelantan, dalam kurun waktu yang cukup lama barulah ia sampai ke pulau sumatera.
Setelah sampai di pulau sumatera Ia terus mencari dimana sang kekasih, seperti layaknya mencari jarum ditumpukan jerami dan menggapai bintang ditengah hari namun berkat malam-malam panjang yang ia lewati tetap memohon petunjuk ke Ilahyat- Nya Ilahi Robby akhirnya dikurun waktu yang cukup panjang sekitar delapan tahun lebih kurang barulah Ia bertemu dengan Siti Jamintan di perkebunan Deli.
Saat itu beragam perasaan membubung tinggi keangkasa liar, ternyata sang kekasih telah menjadi milik orang lain.Memang cinta tak punya alat ukur yang pasti dan takdir tak ada yang bisa menebaknya meski lewat mimpi
cinta bak seganas ombak melulur tanah
merebah pantai kehamparan buih
menikam hati kepusar bumi
gelora haru biru menahan prahara rindu
terkesima dalam linangan air mata
menetes bak embun dikekang ranting kasih
yang serapuh hampanya jiwa
gerai rambut tak lagi diterpa angin
karna beliung tertahan di dahan kering
gerah mendekam dada
bergetar dibelantara jiwa
mengurai mimpi yang semalam
disinar fajar hati yang terhenti bersinar
Tak sepatahpun kata-kata yang terlontar dari bibir Siti Jamintan…rasa enggan dan bersalah serta rindu yang bukan kepalang berperang di jiwanya…sebab pernikahannya dengan Sadimin telah mendapatkan momongan dua orang putra yakni Bibit dan Ahmad.
Gemetar ujung jari dan lidah terasa kering serta linangan air mata yang tumpah adalah sajak cinta yang mengiringinya mengurai kata “ Mas… maafkan aku…..langitpun kugulung untukmu, namun hari-hariku adalah kesalahan alam menempatkan aku disitu….aku mengerti…aku tak sekuat batu karang yang siap menghembang gelombang….dari ganasnya hempangan samudera yang terus menuai badai…..hari-hariku tak seindah yang kau bayangkan…tapi kedua putra ini adalah pemberian tuhan yang tetap kucintai…….aku rela memutus mata rantai tapi tidak untuk sang buah hati yang kumiliki……sebab merekalah pelipur lara ketika aku terbang kebelantara jiwa dalam merindukanmu dari hari ke hari,” Abdurahman terpana hampa’ tak sedikitpun ia bicara, tetapi dari raut wajahnya terlihat senyum sederhan yang melukiskan misteri prahara cinta mereka.
Singkat cerita, akhirnya Siti Jamintan diceraikan Sadimin dengan cara baik-baik dan mohon agar anaknya di jaga baik-baik, semenjak itulah Abdurahman menikahi Siti Jamintan. Belenggu rindu itu sepakat mereka akhiri dari penderitaan jiwa yang selama ini bagaikan sebuah neraka.
Sejarah mencatat mereka sebagai sepasang suami istri yang berangkat dari rasa cinta yang suci, tanpa memandang kekasihnya sudah seorang janda dan punya momongan dua orang putra.
Luka yang diderita Sadimin adalah sebuah takdir yang mau tidak mau harus ia terima dengan ikhlas. Sejarah tak pernah lagi mencatat sampai saat ini…entah dimana rimbanya…….( cinta lara )
Coba kita bayangkan betapa berat tekanan yang diterima dua bocah yang ditinggalkan pada seorang ayah baru yang belum tahu pasti ‘ bagaimana sifat dan tindak-tanduknya
Hari-hari Bibit dan Ahmad selalu dalam diam dan sepi serta rindu yang bukan kepalang terhadap ayahandanya Sadimin, yang seharusnya selalu berada disisi mereka, namun Abdurahman adalah sosok ayah yang arif, lambat laun kedua putra itu selalu dihiasi senyum penuh rasa cinta dan kasih sayang dipelukan manja Sang Ayah (Abdurahman).Allah mentakdirkan lika-liku perjalanan anak manusia, siapapun diatara kita takkan pernah tahu, esok akan terjadi apa.
Abdurahman menateh tangan kedua putra dari bawaan istrinya ke jalan yang penuh makna, etika islami menjadikan kedua putra yang diasuhnya menjadi sosok yang tegas, cerdas dan istiqomah yang akhirnya menjadfikan mereka sebagai pelaku sejarah “ tempat masyarakat bertanya dalam menyemai ladang dunia untuk menuai panen akhirat “
Tahun-tahun berlalu kehadiran dua orang putra yakni Syuib dan Siddik seolah sebuah mimpi indah yang dulu hampir hilang ( Sang buah hati adalah alunan syimpony cinta suci yang takkan pernah berobah nada lagi), sebab kesimpulan kasih sayang dari cinta yang mereka rajut telah hadir bak bunga langka yang jatuh dari sorgawi.
Ke-empat putra ini adalah kristalisasi jiwa yang menyatu dari dua elemen yang berbeda. Bagi Sang Ayah tak ada perbedaann (membeda-bedakan) mereka putra-putranya, sehingga kesepakatan itu diteruskan re-generasi selanjutnya sampai kepada kami di generasi ke lima. Bagi kami keempat pokok turunan itu adalah symbol jati diri kami yang SATU
Fakta sejarah yang penulis paparkan ini adalah kisah nyata dari Kakek buyut kami “ Kyai Haji Abdurahman bin Kyai Haji Fakhri dan Siti Jamintan bin Kyai Haji Abubakar “, dan sejarah panjang ini tidak cuma sebagai teladan tetapi juga sebuah inspirasi bagi penulis untuk mengangkat kisah ini kesebuah karya sastra dengan judul “ PRAHARA CINTA SANG KYAI DI TANAH DELI “.
Penulis
SYAMSUL RIZAL BIN USPAN SYUIB AL-HAJ
Title ;
“ PRAHARA CINTA SANGKYAIDI TANAH DELI “
Karya : Syamsul Rizal bin Uspan Syuib Al-Haj ( TOK LAUT )
Squence
Suasana “Perang Diponegoro” yang menyeluruh selama lima tahun (1825-1830) yang melibatkan seluruh wilayah jawa adalah perang besar yang disebut sebagai PERANG JAWA. ( perang yang penuh dengan kehiruk pikukan dan mandi darah )
SCENE - I
Latar belakang suasana perang yang hampir usai ( Squence )
SESEORANG 1 : ekh......( tangan kananya memegang dada kiri yang bersimbah darah menahan rasa sakit yang bukan kepalang .....sambil berjalan terhuyung kesana kesini menahan nyerinya liang luka .......antara sadar dan tidak.....sosok sang kyai muncul dalam alam bawah sadarnya lalu berkata ).
SOSOK SANG KYAI : Ora mung waton tumindak nanging tumindake mowo watom ( artinya : tidak asal bertindak, tidak sembarangan bicara tidak sembarangan memutuskan, tetapi tindakan kita, tingkah laku kita harus berdasarkan aturan-aturan hukum, aturan main yang telah ada, yang telah ditentukan. Apalagi pemimpin, wajib mematuhi aturan-aturan yang telah ditentukan sebelumnya pada setiap langkahnya).
SESEORANG 1 : ........uh.( kata-kata yang diucapkan oleh sang Kyai yang ada dalam benaknya membuat pikiran dan hati berperang dalam jiwanya......apakah tindakanku saat ini telah memenuhi aturan hukum yang ada.......ketika pertanyaan itu usai dalam kebimbangan ........ia pun tersungkur ke tanah lalu tak sadarkan diri ).
SESEORANG 2 : ( menghampiri seseorang 1 yang dalam keadaan tergeletak serta mata yang terbuka, lalu seseorang 2 mengusap wajah dari seseorang 1 lalu berkata )............Mengapa Tuhan menimpakan derita seperti ini...? ( seseorang 2 tertunduk menahan tangisnya )
SESEORANG 3 :( memegang bahu seseorang 2 lalu berkata..)..Berbahagialah yang mati karna mereka kembali kehadirat Tuhan......
\
SESEORANG 2 : Berarti kasihan kita yang masih hidup .... ! ( sedikit dengan nada marah...seolah-olah dalam pikiranya seseorang 3 tak mau tahu dengan penderitaan yang baru saja menerpa seseorang 1 )
SESEORANG 3 : Tak ada derita bagi mereka yang tawakkal.....(dengan nada enteng dan simpatik )
SESEORANG 2 : Kamu belum memahami maksud saya.....
SESEORANG 3 : Maksudmu... .?
SESEORANG 2 : Mengapa Tuhan menikam perut bocah itu dan sahabat kita ini hingga mati tragis ? ( sambil menunjuk ke mayat bocah dan seseorang 1 ). Kamu lihatkan bagaimana bocah 5 tahun itu tadi dan sahabat kita menahan robek dada dan perut mereka ...hingga menghembuskan napas terakhir..bocah itu tak kan pernah mengerti tentang tawakkal...Ia hanya akan dapat merasakan denyut kesakitan dari urat-urat dan otot-otot yang putus dan tusukan yang memecahkan tulangnya hingga remuk...kamu tidak akan dapat mengatakan kepadanya bahwa tawakkal akan menghilangkan rasa sakit...
SESEORANG 3 : Jangan mencoba meramal nasib orang . Janganlah duga-duga kebahagiaan atau ketidak’bahagian seseorang. Tuhan Maha Pemurah..Bahkan seseorang dapat menemukan kebahagiaan selagi pedang diangkat tinggi-tinggi oleh seorang algojo diatas lehernya yang telanjang.....
SESEORANG 2 : Kamu benar...namun nyatanya...bocah kecil itu tadi menjerit-jerit, segera setelah itu ia mehembuskan napas terakhir secara mengenaskan, alangkah menusuknya jeritan itu. Saya tidak akan pernah melupakan jeritan itu seumur hidup saya, anak itu kehabisan darah, anak itu hanya dapat merintih menahan perihnya luka, Betapa menyayat rintihannya.
Tidak, ia tidak akan mengerti tawakkal. Dia hanya merasakan kesakitan yang tidak terperikan. Kesakitan yang tidak dipahaminya. Kesakitan ini bukanlah ramalan, sahabat. Ini kenyataan. Bocah itu tidak memahami kenyataan itu, seperti saya tidak memahami mengapa Tuhan menimpakan derita ini kepada kita semua saat ini.
SESEORANG 3 : Kau bukan tidak paham, tetapi kau tidak mau memahaminya.
SESEORANG 2 : Saya sudah memahaminya sejak perang ini terjadi
SESEORANG 3 : Tidak....Kau tidak memahaminya selama kau memaksakan kehendakmu terhadap Tuhan
SESEORANG 2 : ( Tertegun ) Memaksakan kehendak saya....?
SESEORANG 3 : Kau berkeras memperbandingkan Tuhan dengan manusia. Kau berkeras memanusiawikan Tuhan. Ketika Tuhan memperlihatkan wajahnya yang tidak manusiawi, kau menolaknya.
SESEORANG 2 : Saya tidak menolak Tuhan ; saya tidak paham. Tuhan adalah maha penyayang dan Maha Pengasih, tetapi mengapa bocah kecil yang tak tahu apa-apa itu dibiarkan menderita ? Mengapa ia harus kesakitan ? Mengapa anak-anak kecil lain harus kesakitan dan menderita menjadi korban perang ? Mengapa ?
SESEORANG 3 : Kau murtad...
SESEORANG 2 : Apakah hasrat untuk memahami merupakan kemurtadan ? Kalau begitu mengapa Tuhan memberi saya akal ?
SESEORANG 3 : Kau sesat... Murtad....Kau bukan ingin memahami tetapi hendak memberhalakan Tuhan
SESEORANG 2 : ( Tertegun ) Saya tidak mengerti maksudmu
SESEORANG 3 : Ketika kau mendengar Kata Tuhan Maha Penyayang, maka kau bayangkan Tuhan bagai seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya. Ketika kau mendengar kata Tuhan Maha Penyayang, kau beranggapan Tuhan tidak akan menimpakan bala perang yang menewaskan bocah kecil itu
SESEORANG 2 : Benar....Tuhan harus kasihan kepada bocah itu
SESEORANG 3 : Harus .. ? Mengapa harus... ?
SESEORANG 2 : Bukankah Dia Maha Pengasih ...?
SESEORANG 3 : Kau kira Tuhan mengasihi seperti manusia mengasihi dan merasa kasihan
SESEORANG 2 : ( Setelah tertegun beberapa lama )....... Ya.....
SESEORANG 3 : Disanalah letak kekeliruanmu. Itu pula yang menyebabkan kau tidak akan memahami peristiwa perang yang menyedihkan ini. Dengan menganggap Tuhan seperti manusia, kau telah memberhalakan-Nya. Disanalah letak kemurtadanmu. Disana pula letak sumber penderitaanmu.....Perang ini bisa indah dan tidak menakutkan ......perang ini adalah alat untuk menyemai ladang dunia dan menuai panen akhirat.....asal kita tetap berada dalam sifat Ke- Ilahyaan Allah dalam menjalani realitas takdir ini...Ayo....( mengajak orang-orang yang ad ditempat itu untuk pergi sambil berjalan dan bicara ) perang ini takkan pernah usai ....kita harus hijrah....karna terlalu jauh jalan panjang yang bakal kita tempuh untuk menghantarkan masyarakat kita ke istana aplikasi zikir....aku khawatir...masyarakat kita tak mampu menuju jalan panjang itu....( ketika sampai pada kalimat “aku khawatir ..masyarakat kita tak mampu menuju jalan panjang” / suasana beralih ke suasana berikutnya dengan pengalihan camera ke suasana ; Terdengar suara tangisan. Muncul rombongan lain mengusung jenazah dan disisi lain sorang kyai berdiri di suatu tempat dengan seorang santrinya yang tampak menangis.....Mereka memperhatikan rombongan rakyat yang bergerak menyelamatkan diri/hijrah, tampak diantara pengiring orang-orang cedera atau bertongkat.......Sementara doa-doa dan tangisan serta zikir bercampur dengan suasana kehiruk pikukan yang menjauh menjadi latar belakang suasana adengan ini )
SCENE 2
Ditengah gemuruh bacaan ...doa-doa serta tangisan dan zikr itu ......terlihat disebuah pelataran padepokan beberapa orang kelihatan berbicara serius
BOCAH LK 1 : serdadu belanda... belanda...( sambil berlari tergesa-gesa menghampiri teman-temannya....dan mereka menuju pelataran padepokan dan mereka lalu berkata )....kang...serdadu belanda sedang menuju kesini....( mereka bergegas melarikan diri dan menuju...sebuah rumah.......sementara dirumah itu sedang terjadi dialog )
KYAI ABUBAKAR :Bu...tolong panggilkan Siti jaminten....( menoleh kepada istrinya seraya menyuruh agar istinya memanggil Siti Jaminten sang putrinya ....sambil menganggukkan kepala sang istri menjmput anaknya siti jaminten di dapur )....
ISTRI ABUBAKAR : Jaminten....ayo..dipanggil buyamu....
SITI JAMINTEN : Ada apa bu...( sambil berjalan menuju ruang tamu dalam hatinya ada rasa was-was kalau-kalau pertemuannya dengan abdurahman semalam malam yang kepergok dengan ayahandanya Abdurahman yakni Kyai Fahri dan santrinya saat itu bakal menjadi masalah besar ......jaminten berjalan perlahan sambil berpikir.....ke Flash B ack )
FLASH BACK
Suasana didepan surau selesai mengaji........diatara lalu lalang para santri yang pulang memakai colok bambu.......tiba-tiba abdurahman menarik tangan juminten yang sedang berjalan bersama teman-temannya /teman-teman jaminten terkejut dan terperangah lalu meneruskan perjalanan sambil saling berbisik......abdurahman mengajak jaminten kesamping surau....
ABDURAHMAN : Aku tak mau kehilangan kamu sayang.........
SITI JAMINTEN : ada apa.....kamu kog ngomong begitu
ABDURAHMAN : Semalam malam aku mendengar percakapan buya dengan ummi bahwa kami sekeluarga dengan beberapa kerabat akan pergi jauh meninggalkan kampung ini.....sebab suasana saat ini sangat berbahaya........
SITI JAMINTEN : jadi aku harus bagaimana.......
ABDURAHMAN : ( mendekati jaminten sambil memegang kedua tangannya sambil berkata )“ Aku tak bisa hidup tanpamu......berjanjilah untukku ............”, ( melihat sikap yang dilakukan abdurahman air mata jaminten menetes dan mereka seolah mau berpelukan, namun tatanan agama yang kuat membuat gerakan mereka serasa serba salah/rasa cinta dan rindu yang mendalam bergelora dengan puisi cinta penuh makna yang serasa tak mampu mereka bendung ..)
SITI JAMINTEN : apapun yang terjadi....aku tetap menjujung tinggi hubungan kita Mas.........meski langit runtuh dan bumi terbelah......aku tetap milik mu ( mereka mendekat dan ketika mereka mau berpelukan tiba-tiba..........)
KYAI FAKHRI : Masya allah........apa yang kamu lakukan .........disini berdu-dua-an.......( sambil menggeleng-gelengkan kepala....lalu berkata )............ Kamu ngerti nggak...agama kita mengharamkan tindakan kamu ini...............lailahaillallah..........Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan ora tahan
yen tan melu anglakoni
baya kedumen melik
kaliren wekasanipun
dilalah kersa Allah
sabeja-bejane kang lali
luwih begja kang eling lan waspada
.lalu ibunya menghardik.....tatkala hardikan itu datang disaat itu suasana pertemuan mereka yang ada dalam bayangannya dengan abdurahman hampir selesai membuatnya tersentak / FB )
ISTRI ABUBAKAR :......cepat ditunggu buyamu........
SITI JAMINTEN : iya ummi.........
SCENE 3 dst
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
